Hadis Tentang Do’a Meminta Keteguhan Hati
Hadis
عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا قَالَ نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ وَأُمِّ سَلَمَةَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَعَائِشَةَ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَهَكَذَا رَوَى غَيْرُ وَاحِدٍ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ أَنَسٍ وَرَوَى بَعْضُهُمْ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحَدِيثُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ أَنَسٍ أَصَحُّ. (رَوَاهُ سُنَنُ التِّرْمِذِيِّ: ٢٢٩٠)
Terjemahan
Dari dari Anas bahwa Rasulullah SAW terbiasa membaca doa: “ya Muqallibal quluub tsabbit qalbi ‘alaa diinik,” kemudian Anas bertanya kepada beliau bahwa mereka telah beriman kepada beliau dan apa yang beliau bawa, lalu apakah beliau masih mengkhawatirkan mereka, kemudian Rasulullah menjawab bahwa beliau masih khawatir karena sesungguhnya hati manusia berada di antara dua genggaman tangan Allah yang Dia bolak-balikkan sesuai kehendak-Nya." Abu Isa berkata: hadits semakna juga diriwayatkan dari An Nawwas bin Sam'an, Ummu Salamah, Abdullah bin Amr dan A'isyah. Dan ini adalah hadits Hasan, demikianlah kebanyakan telah meriwayatkannya dari Al A'masy dari Abu Sufyan dari Anas. Dan sebagian yang lainnya telah meriwayatkannya dari Al-A'masy dari Abu Sufyan dari Jabir dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, namun hadits Abu Sufyan dari Anas lebih shahih. ( HR al-Tirmidzi: 2290).[1]
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan doa yang sering dibaca Rasulullah SAW , yaitu “Ya Muqallibal quluub tsabbit qalbi ‘alaa diinik” (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu), serta penjelasan bahwa hati manusia berada dalam kekuasaan Allah yang dapat membolak-balikkan sesuai kehendak-Nya. Kandungan hadis ini menegaskan bahwa keimanan seseorang tidak boleh dianggap aman sepenuhnya, sehingga seorang Muslim harus selalu memohon keteguhan hati kepada Allah agar tetap istiqamah di atas agama, serta menyadari bahwa hidayah dan keteguhan iman sepenuhnya merupakan karunia Allah yang harus terus diminta melalui doa.
Referensi
- Ibid, juz 4, hal. 370, Kitab Ad-Du'a, Bab Du'a Ya Muqallibal Qulub, No. 2290.

Komentar 0