40 HADIS PUASA

KTI

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ أَهْلًا وَسَهْلًا وَمَرْحَبًا بِكُمْ

Selamat datang, silahkan telusuri aplikasi ini untuk menemukan hadis-hadis seputar puasa. Terima Kasih

Foto Ali Sodikin

Tentang Penulis

Ali Sodikin

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

34 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS PUASA

Penyusun: Ali Sodikin

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Hikmah Puasa

Disusun oleh: Ali Sodikin (@SODIKIN_aaa) · Bagian dari 40 HADIS PUASA

Hadis

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللَّهِ: إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَل.(رَوَاهُ مُسْلِمٌ: ١١٥١)[1]

Terjemahan

Hadis dari Abu Hurairah Ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah ia berkata-kata kotor dan jangan pula berbuat bodoh (kasar atau bertindak tidak baik). (HR. Muslim: 1151)

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini menjelaskan bahwa puasa tidak hanya menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa secara fisik, tetapi juga menahan diri dari perbuatan dan ucapan yang buruk. Rasulullah SAW mengajarkan agar orang yang berpuasa menjaga lisannya dari perkataan kotor, dusta, celaan, dan ucapan yang dapat menyakiti orang lain. Selain itu, orang yang berpuasa juga diperintahkan untuk menghindari sikap jahil, yaitu perilaku kasar, emosi yang tidak terkendali, pertengkaran, dan tindakan yang bertentangan dengan akhlak mulia.
Hadis ini menunjukkan bahwa tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan dan memperbaiki akhlak seorang Muslim. Oleh karena itu, nilai puasa tidak hanya terletak pada menahan lapar dan haus, tetapi juga pada kemampuan seseorang menjaga sikap, ucapan, dan perilakunya. Dengan menjaga diri dari hal-hal yang buruk, puasa akan memberikan pengaruh positif terhadap kepribadian seseorang dan menjadikannya lebih sabar, santun, serta dekat kepada Allah SWT.

Referensi

  1. Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Al-Jami’ al-Musnad as  Sahih al-Mukhtasar Min as-Sunan Bi Naql al-’Adl ’an al-’Adl ’an Rasulillah (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2006).,h.444

Komentar 0