Hadis tentang Beriman Kepada Takdir
Hadis
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
(لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ حَتَّى يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ). قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِى الْبَابِ عَنْ عُبَادَةَ وَجَابِرٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو. وَهَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَيْمُونٍ. وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَيْمُونٍ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ.(رواه الترمذي: ٢١١)[1]
(لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ حَتَّى يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ). قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِى الْبَابِ عَنْ عُبَادَةَ وَجَابِرٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو. وَهَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَيْمُونٍ. وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَيْمُونٍ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ.(رواه الترمذي: ٢١١)[1]
Terjemahan
Hadis dari Jabir bin Abdullah RA ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:"tidaklah seorang hamba beriman dengan sempurna sampai ia beriman kepada takdir, baik yang baik maupun yang buruk, sehingga ia mengetahui bahwa apa yang menimpanya tidak akan mungkin luput darinya, dan apa yang luput darinya tidak akan mungkin menimpanya."Abu Isa (Imam al-Tirmidzi) berkata: dalam bab ini juga terdapat riwayat dari Ubadah, Jabir, dan Abdullah bin Amr. Hadis ini adalah hadis gharib, dan kami tidak mengetahuinya kecuali melalui riwayat Abdullah bin Maimun. Abdullah bin Maimun adalah perawi yang hadisnya munkar. (HR al-Tirmidzi: 211)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa iman kepada qadha dan qadar merupakan bagian penting dari kesempurnaan iman. Seorang muslim wajib meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi, baik berupa kebaikan maupun keburukan, telah ditetapkan oleh Allah SWT. Apa yang telah Allah takdirkan pasti akan menimpa seseorang dan tidak mungkin terhindarkan, sedangkan apa yang tidak ditakdirkan baginya tidak akan pernah terjadi. Keyakinan ini akan menumbuhkan sikap sabar saat menghadapi musibah, bersyukur ketika memperoleh nikmat, serta menjadikan hati lebih tenang dan tawakal kepada Allah SWT dalam menjalani kehidupan.
Referensi
- Abu `Isa Muhammad bin `Isa bin Saurah al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, 1420 H/2000 M),Juz 1, h. 370.

Komentar 0