Hadis tentang Tauhid sebagai Dasar Keimanan
Hadis
عَنْ مُعَاذٍ قَالَ: أَنَا رَدِيفُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: (يَا مُعَاذُ). قُلْتُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ. ثُمَّ قَالَ مِثْلَهَا ثَلَاثًا: (هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ؟) قُلْتُ: لَا. قَالَ: (حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا). ثُمَّ سَارَ سَاعَةً فَقَالَ: (يَا مُعَاذُ). قُلْتُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ. قَالَ: (هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ الْعِبَادِعَلَى اللَّهِ إِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ؟ أَنْ لَايُعَذِّبَهُمْ). (رواه البخاري:٥٩١٢)[1]
Terjemahan
Hadis dari Mu'adz bin Jabal RA ia berkata: aku pernah dibonceng oleh Rasulullah SAW. Ia lalu bersabda, “wahai Mu'adz!” aku menjawab, “aku penuhi panggilanmu dan siap melayanimu, wahai Rasulullah.” Panggilan itu beliau ulangi sebanyak tiga kali. Kemudian beliau bertanya, “tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya?” aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” ia bersabda, “hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah mereka beribadah kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” Setelah berjalan beberapa saat, beliau kembali memanggilku, “wahai Mu'adz!” aku menjawab, “aku penuhi panggilanmu dan siap melayanimu.” ia bertanya, “tahukah engkau apa hak hamba-hamba atas Allah apabila mereka melaksanakan hal tersebut?” aku menjawab, Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. ia bersabda, hak mereka atas Allah adalah Dia tidak akan mengazab mereka. (HR Al-Bukhari: 2312)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa tauhid merupakan dasar utama keimanan seorang Muslim. Setiap hamba memiliki kewajiban untuk beribadah hanya kepada Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, karena tauhid menjadi landasan diterimanya seluruh amal ibadah. Keimanan yang benar akan melahirkan ketaatan kepada Allah dan menjauhkan seseorang dari perbuatan syirik. Oleh karena itu, hadis ini mengajarkan pentingnya menjaga kemurnian akidah serta menegaskan bahwa orang yang mentauhidkan Allah dengan ikhlas akan memperoleh rahmat, ampunan, dan keselamatan dari azab-Nya.
Referensi
- Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Bukhari, Al-Jami' al-Musnad al-Shahih al-Mukhtasar min Umur Rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam wa Sunanihi wa Ayyamih, (Damaskus: Dar Ibn Kathir, 2002), Juz 5, h. 2312.

Komentar 0