Hadis
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَتَهَجَّدُ، قَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ، لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ حَقٌّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ. (رواه ابو داود: ١٦٤٠).
Terjemahan
Hadis dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, ia berkata: Dahulu NabiSAW apabila bangun pada malam hari untuk melaksanakan tahajud, beliau berdoa, “Ya Allah, bagi-Mu segala puji; Engkau adalah Penegak (Pemelihara) langit dan bumi serta segala yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji; milik-Mu kerajaan langit dan bumi serta segala yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji; Engkau adalah Cahaya langit dan bumi. Bagi-Mu segala puji; Engkau adalah Yang Maha Benar, janji-Mu benar, perjumpaan dengan-Mu benar, firman-Mu benar, surga itu benar, neraka itu benar, para nabi itu benar, MuhammadSAW itu benar, dan hari kiamat itu benar. Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, dengan pertolongan-Mu aku berdebat, dan kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah aku atas apa yang telah aku lakukan dan yang akan aku lakukan, yang aku rahasiakan dan yang aku tampakkan. Engkaulah Yang Mendahulukan dan Engkaulah Yang Mengakhirkan, tidak ada tuhan selain Engkau.” (HR. Abu Dawud: 1640).
Isi kandungan
Hadis ini menggambarkan struktur doa tahajud yang sangat komprehensif, dimulai dari pengakuan rububiyyah Allah (sebagai pemelihara, pemilik, dan cahaya seluruh alam), lalu diikuti afirmasi akidah inti seperti kebenaran janji Allah, hari akhir, surga-neraka, dan kenabian, hingga berujung pada sikap eksistensial seorang hamba: berserah diri, beriman, bertawakal, kembali kepada Allah, serta menjadikan-Nya satu-satunya rujukan hukum. Ini bukan sekadar doa, tapi deklarasi total orientasi hidup. Kalau kamu memisahkan antara ibadah ritual dan keyakinan praktis sehari-hari, maka kamu bertentangan dengan pola yang diajarkan hadis ini, karena di sini Nabi SAW menyatukan teologi, spiritualitas, dan komitmen tindakan dalam satu rangkaian doa yang utuh.
Komentar 0