* Hadis
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ قَالَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ (رواه النسائي: ٩٨٤)
Terjemahan
Hadis dari Abu Sa‘id, ia berkata: adalah RasulullahSAW apabila memulai salat, Rasulullah mengucapkan, “Mahasuci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu, Maha berkah nama-Mu, Maha tinggi keagungan-Mu, dan tidak ada sesembahan selain Engkau.” (HR al-Nasa’i: 984)
Isi kandungan Hadis
Hadis ini menegaskan adanya bacaan pembuka (doa iftitah) dalam salat yang berfungsi sebagai pengantar spiritual sebelum masuk ke inti ibadah, dengan struktur makna yang kuat: tasbih (pensucian Allah dari segala kekurangan), tahmid (pengakuan bahwa semua pujian milik-Nya), pengagungan nama dan keagungan-Nya, serta penegasan tauhid. Ini menunjukkan bahwa salat bukan sekadar rangkaian gerakan, tapi proses penyiapan kesadaran membersihkan persepsi tentang Tuhan sebelum berinteraksi dengan-Nya. Kalau kamu masuk salat tanpa fase ini secara sadar (meskipun lafaznya dibaca), maka secara praktis kamu kehilangan fungsi orientasi tauhid yang seharusnya menjadi fondasi seluruh salat.
* Hadis
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ بِاللَّيْلِ كَبَّرَ ثُمَّ يَقُولُ «سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ ». ثُمَّ يَقُولُ «اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا». ثُمَّ يَقُولُ « أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ ». قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِى الْبَابِ عَنْ عَلِىٍّ وَعَائِشَةَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَجَابِرٍ وَجُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ وَابْنِ عُمَرَ. قَالَ أَبُو عِيسَى وَحَدِيثُ أَبِى سَعِيدٍ أَشْهَرُ حَدِيثٍ فِى هَذَا الْبَابِ. وَقَدْ أَخَذَ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ بِهَذَا الْحَدِيثِ وَأَمَّا أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ فَقَالُوا بِمَا رُوِىَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ « سُبْحَانَكَ (رواه ابو داود: ٧٣٧٥)
Terjemahan
Hadis dari Abu Sa‘id al-Khudri RA, ia berkata: RasulullahSAW apabila bangun untuk melaksanakan shalat malam, beliau bertakbir, kemudian membaca: “Mahasuci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu, Maha berkah nama-Mu, Maha tinggi keagungan-Mu, dan tidak ada Tuhan selain Engkau.” Kemudian beliau mengucapkan: “Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya.” Lalu beliau membaca: “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk, dari godaannya, kesombongannya, dan tiupan (bisikannya).” Abu ‘Isa berkata: dalam bab ini juga diriwayatkan dari Ali, Aisyah, Abdullah bin Mas‘ud, Jabir, Jubair bin Muth‘im, dan Ibnu Umar. Abu ‘Isa berkata: hadis Abu Sa‘id adalah hadis yang paling masyhur dalam bab ini, dan sebagian ulama mengamalkan hadis ini, sementara kebanyakan ulama mengambil riwayat bahwa NabiSAW membaca “Subhanaka…” (HR Abu Dawud: 7375)
Isi kandungan Hadis
Hadis ini menunjukkan bahwa doa iftitah dalam salat malam memiliki struktur yang terdiri dari tasbih, takbir, dan isti‘adzah yang berfungsi sebagai pembuka spiritual sebelum membaca Al-Qur’an. Rasulullah SAW memulai dengan pujian kepada Allah, pengagungan-Nya, kemudian memohon perlindungan dari gangguan setan, yang menandakan bahwa iftitah berfungsi sebagai mekanisme penjernihan hati dan penguatan fokus ibadah. Dalam konteks ini, iftitah tidak hanya menjadi bacaan awal salat, tetapi juga sarana untuk menghadirkan kesadaran tauhid, memutus distraksi spiritual, dan menyiapkan hati agar lebih khusyuk dalam shalat, khususnya pada ibadah malam yang membutuhkan kedalaman konsentrasi dan ketenangan batin.
* Hadis
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ كَبَّرَ ثُمَّ يَقُولُ « سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ ». ثُمَّ يَقُولُ « لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ». ثَلاَثًا ثُمَّ يَقُولُ « اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا ». ثَلاَثًا « أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ ». ثُمَّ يَقْرَأُ. قَالَ أَبُو دَاوُدَ وَهَذَا الْحَدِيثُ يَقُولُونَ هُوَ عَنْ عَلِىِّ بْنِ عَلِىٍّ عَنِ الْحَسَنِ مُرْسَلاً الْوَهَمُ مِنْ جَعْفَرٍ. (رواه ابو داود: ٧٧٥)
Terjemahan
Hadis dari Abu Sa‘id al-Khudri RA, ia berkata: RasulullahSAW apabila bangun pada malam hari, beliau bertakbir, kemudian membaca: “Mahasuci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu, Maha berkah nama-Mu, Maha tinggi keagungan-Mu, dan tidak ada Tuhan selain Engkau.” Kemudian beliau membaca: “Tidak ada Tuhan selain Allah” sebanyak tiga kali, lalu membaca: “Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya” sebanyak tiga kali, kemudian membaca: “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk, dari godaannya, kesombongannya, dan tiupan (bisikannya).” Kemudian beliau membaca (Al-Qur’an). Abu Dawud berkata: hadis ini dikatakan diriwayatkan dari Ali bin Ali dari al-Hasan secara mursal, dan kekeliruan berasal dari Ja‘far (HR. Abu Dawud: 775).
Isi kandungan Hadis
Hadis-hadis ini menggambarkan pola umum iftitah (doa pembuka salat), yaitu rangkaian dzikir dan doa yang dibaca Nabi ﷺ setelah takbiratul ihram sebelum membaca Al-Fatihah atau sebelum memulai qiyam malam. Redaksi iftitah yang muncul dalam berbagai riwayat memiliki inti yang sama: penegasan tauhid, pengagungan Allah, pengakuan ketergantungan total seorang hamba, serta permohonan ampun dan hidayah. Perbedaannya terletak pada variasi lafaz tambahan seperti doa perlindungan dari setan, permohonan penyucian dosa, dan permintaan akhlak terbaik. Variasi ini menunjukkan fleksibilitas dalam praktik iftitah tanpa mengubah substansi utamanya sebagai pembuka spiritual salat yang menegaskan orientasi ibadah hanya kepada Allah sebelum masuk ke bacaan utama salat.
* Hadis
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا اسْتَفْتَحَ الصَّلاَةَ قَالَ « سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ ». قَالَ أَبُو دَاوُدَ وَهَذَا الْحَدِيثُ لَيْسَ بِالْمَشْهُورِ عَنْ عَبْدِ السَّلاَمِ بْنِ حَرْبٍ لَمْ يَرْوِهِ إِلاَّ طَلْقُ بْنُ غَنَّامٍ وَقَدْ رَوَى قِصَّةَ الصَّلاَةِ عَنْ بُدَيْلٍ جَمَاعَةٌ لَمْ يَذْكُرُوا فِيهِ شَيْئًا مِنْ هَذَا. (رواه ابو داود: ٧٧٦)
Terjemahan
Hadis dari Aisyah RA, diriwayatkan bahwa Husain bin Isa menceritakan, dari Thalq bin Ghannam, dari Abdus Salam bin Harb al-Mula’i, dari Budail bin Maisarah, dari Abu al-Jauza’, dari Aisyah RA, ia berkata: RasulullahSAW apabila memulai shalat, ia membaca: “Mahasuci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu, Maha berkah nama-Mu, Maha tinggi keagungan-Mu, dan tidak ada Tuhan selain Engkau.” Abu Dawud berkata: hadis ini tidak masyhur dari Abdus Salam bin Harb, tidak ada yang meriwayatkannya kecuali Thalq bin Ghannam, sementara sejumlah perawi lain meriwayatkan tentang tata cara shalat dari Budail namun tidak menyebutkan bacaan ini (HR. Abu Dawud: 776).
Isi kandungan Hadis
Riwayat ini menjelaskan tentang doa doa yg dapat dipakai iftitah, yakni doa pembuka salat yang dibaca Nabi ﷺ ketika memulai shalat dengan lafaz “Subḥānaka Allāhumma wa biḥamdika…”. Isi bacaan tersebut menegaskan tiga fungsi utama iftitah: (1) tanzih (pensucian Allah dari segala kekurangan), (2) tahmid (pujian total kepada Allah), dan (3) ta‘zim (pengagungan nama dan kedudukan Allah). Namun, hadis ini juga menunjukkan adanya perbedaan kualitas transmisi, karena Abu Dawud menilai riwayat ini tidak masyhur dan tidak didukung jalur periwayatan yang kuat dibanding riwayat lain dari Budail bin Maisarah. Artinya, dalam diskursus fiqh al-ḥadīth, bacaan iftitah ini tetap dikenal, tetapi statusnya dipahami melalui kritik sanad, sehingga penggunaannya tidak bisa dilepaskan dari pertimbangan validitas riwayat dan dominasi praktik yang lebih kuat dalam hadis-hadis lain.
Komentar 0