40 HADIS DOA IFTITAH

KTI

Selamat Datang di Aplikasi 40 Hadis Do'a Iftitah

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Alhamdulillahirabbil 'alamin, segala puji bagi Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga aplikasi 40 hadis Iftitah ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya. Aplikasi ini hadir sebagai media pembelajaran yang bertujuan memudahkan pengguna dalam mempelajari hadis-hadis tentang doa iftitah secara praktis, mudah dipahami, dan dapat diakses kapan saja. Kami berharap aplikasi ini dapat menjadi sarana untuk menambah wawasan, meningkatkan kecintaan terhadap sunnah Rasulullah SAW, serta mendorong pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari. Kami menyadari bahwa aplikasi ini masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi pengembangan aplikasi ini di masa mendatang. Semoga aplikasi 40 hadis Iftitah ini bermanfaat dan menjadi amal jariyah bagi semua pihak yang terlibat dalam pembuatannya. Wassalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Tentang Penulis

M. iwang naldi

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

15 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Bacaan Do'a Iftitah

Disusun oleh: M. iwang naldi (@iwangnaldi) · Bagian dari 40 HADIS DOA IFTITAH

* Hadis

أَبُوهُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَسْكُتُ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَبَيْنَ الْقِرَاءَةِ إِسْكَاتَةً قَالَ أَحْسِبُهُ قَالَ هُنَيَّةً فَقُلْتُ بِأَبِى وَأُمِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِسْكَاتُكَ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةِ مَا تَقُولُ قَالَ: أَقُولُ اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِى وَبَيْنَ خَطَايَاىَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِى مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَابِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَد (رواه البخاري: ٧٤٤)[١]

Terjemahan

Hadis dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW diam sejenak antara takbir dan bacaan (dalam salat), sejenak (heningan singkat). Aku berkata: “demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, apa yang engkau baca dalam diam antara takbir dan bacaan itu?” Rasulullah menjawab: “aku membaca: ya Allah, jauhkanlah antara aku dan dosa-dosaku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari dosa-dosaku sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah dosa-dosaku dengan air, salju, dan embun es.” (HR al-Bukhari: 744)

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini menjelaskan sunnah membaca doa iftitah setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca al-Fatihah dalam salat. Doa tersebut berisi permohonan agar Allah menjauhkan hamba dari dosa, membersihkan kesalahan, dan menyucikan diri dari noda maksiat. Penggunaan perumpamaan seperti jauhnya timur dan barat serta bersihnya pakaian putih menunjukkan besarnya harapan seorang hamba terhadap ampunan dan kesucian dari dosa. Hadis ini juga mengandung ajaran bahwa salat tidak hanya berupa gerakan dan bacaan wajib, tetapi juga menjadi sarana penyucian hati, penghambaan, dan pendekatan diri kepada Allah SWT dengan penuh kerendahan hati.

Referensi

  1.  Al-Imam Muslim, SNoaNoiNo Muslim, 3rd edn (Beirut: Dar Al-kutub Al-IlmiyaNo, 2008)., no. 598.


* Hadis

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَبَّرَ فِي الصَّلَاةِ سَكَتَ هُنَيَّةً قَبْلَ أَنْ يَقْرَأَ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، أَرَأَيْتَ سُكُوتَكَ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةِ، مَا تَقُولُ؟ قَالَ: أَقُولُ: اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ (رواه مسلم: ٥۹٨) [٢]

Terjemahan

Hadis dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW apabila bertakbir dalam salat, Rasulullah diam sejenak sebelum membaca (al-Fatihah). Aku bertanya: "wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, apa yang engkau baca saat diam antara takbir dan bacaan"? Rasulullah menjawab: "aku membaca: ya Allah, jauhkanlah antara aku dan dosa-dosaku sebagaimana engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari dosa-dosaku sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah dosa-dosaku dengan air, salju, dan embun es". (HR Muslim: 598)

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini menunjukkan adanya doa iftitah yang dibaca Rasulullah SAW setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca al-Fatihah dalam salat. Doa tersebut berisi permohonan kepada Allah agar dijauhkan dari dosa, dibersihkan dari kesalahan, dan disucikan sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran. Hadis ini juga mengandung ajaran tentang pentingnya menghadirkan rasa rendah diri, taubat, dan kebutuhan akan ampunan Allah sebelum memulai bacaan salat. Selain itu, hadis ini menunjukkan bahwa salat bukan hanya gerakan lahiriah, tetapi juga sarana penyucian jiwa dan pendekatan diri kepada Allah SWT.

Referensi

  2. Al-Imam Muslim, SNoaNoiNo Muslim, 3rd edn (Beirut: Dar Al-kutub Al-IlmiyaNo, 2008)., no. 598.



* Hadis

عَنْ عَلِىِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ قَالَ وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْتَ رَبِّى وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِى وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِى فَاغْفِرْ لِى ذُنُوبِى جَمِيعًا إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ وَاهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ وَإِذَا رَكَعَ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ خَشَعَ لَكَ سَمْعِى وَبَصَرِى وَمُخِّى وَعَظْمِى وَعَصَبِى وَإِذَا رَفَعَ قَالَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الأَرْضِ وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَىْءٍ بَعْدُ  وَإِذَا سَجَدَ قَالَ للَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ ثُمَّ يَكُونُ مِنْ آخِرِ مَا يَقُولُ بَيْنَ التَّشَهُّدِ وَالتَّسْلِيمِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ (رواه النسائي: ١٨٤٨)[٣]

Terjemahan

Hadis dari Ali bin Abi Thalib RA, dari Rasulullah SAW, bahwa apabila ia berdiri untuk salat, ia membaca: “aku menghadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus (hanif), dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dengan itulah aku diperintahkan dan aku termasuk orang-orang muslim. Ya Allah, engkau adalah Raja, tidak ada Tuhan selain engkau. Engkau Tuhanku dan aku hamba-Mu. Aku telah menzalimi diriku dan mengakui dosaku, maka ampunilah seluruh dosaku, karena tidak ada yang mengampuni dosa selain engkau. Berilah aku petunjuk kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang memberi petunjuk kepadanya selain Engkau. Jauhkanlah dariku akhlak yang buruk, tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku selain Engkau. Aku memenuhi panggilan-Mu dan siap melayani-Mu, segala kebaikan berada di tangan-Mu, dan keburukan tidak disandarkan kepada-Mu. Aku berada dengan-Mu dan kembali kepada-Mu. Maha berkah dan maha tinggi Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” Dan apabila beliau rukuk, beliau membaca: “Ya Allah, kepada-Mu aku rukuk, kepada-Mu aku beriman, dan kepada-Mu aku berserah diri. Tunduk kepada-Mu pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku, dan urat-uratku.” Dan apabila beliau bangkit (dari rukuk), beliau membaca: “ya Allah, Tuhan kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit, sepenuh bumi, sepenuh apa yang ada di antara keduanya, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu.” Dan apabila beliau sujud, beliau membaca: “ya Allah, kepada-Mu aku sujud, kepada-Mu aku beriman, dan kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada (Allah) yang menciptakannya, membentuknya, serta membukakan pendengaran dan penglihatannya. Maha Berkah Allah, sebaik-baik Pencipta.” Kemudian di antara akhir tasyahud dan salam, beliau membaca: “ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan, serta apa yang aku lakukan secara berlebihan, dan apa yang Engkau lebih mengetahuinya dariku. Engkaulah yang maha mendahulukan dan yang maha mengakhirkan, tidak ada Tuhan selain engkau.” (HR al-Nasa’i: 1848)

Isi Kandungan Hadis

Riwayat dari Ali bin Abi Thalib ini memperlihatkan bahwa doa pembuka “وَجَّهْتُ وَجْهِيَ…” bukan hanya pembukaan verbal, tetapi deklarasi teologis total: orientasi hidup, mati, ibadah, dan eksistensi diarahkan sepenuhnya kepada Allah (tauhid eksistensial). Ini level yang berbeda dari hadis-hadis sebelumnya. Kalau sebelumnya fokus pada penyucian dosa, di sini dimulai dari penetapan arah hidup (tawajjuh)  lalu diikuti pengakuan dosa, dan permohonan hidayah akhlak serta komitmen ubudiyyah.

Referensi

  3. Ahmad bin Shu‘ayb al-Nasā’ī, Sunan al-Nasā’ī (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1991), no. 1848.

* Hadis

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مَسْلَمَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَامَ يُصَلِّي تَطَوُّعًا قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ، وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ، وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، سبحانك وبحمدك ثم يقرأ (رَوَاهُ الْبُخَارِي: ۸۹٧)[٤]

Terjemahan

Hadis dari Muhammad bin Maslamah RA, bahwa Rasulullah SAW apabila berdiri untuk melaksanakan salat sunnah (tathawwu‘), beliau bertakbir lalu membaca: “Aku menghadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dalam keadaan lurus dan berserah diri, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dengan itu aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang muslim. Ya Allah, Engkau adalah Raja, tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau dan dengan segala puji bagi-Mu.” Kemudian ia membaca (Al-Qur’an). (HR al-Bukhari: 897)

Isi Kandungan Hadis

Riwayat dari Muhammad bin Maslamah ini menegaskan bahwa doa “وَجَّهْتُ وَجْهِيَ…” digunakan Nabi ﷺ secara eksplisit dalam salat sunnah. Ini bukan detail sepele. Artinya, ada indikasi bahwa ekspresi iftitah yang panjang, reflektif, dan teologis lebih relevan pada ibadah yang bersifat non-formal dan lebih kontemplatif, dibanding salat wajib yang cenderung ringkas. Dengan kata lain: panjang–pendeknya iftitah tidak acak, tapi kontekstual.

Referensi

  4. MuNoammad bin Ismail al-Bukhari, Op.cit., no. 744.

* Hadis

أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْكُتُ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَبَيْنَ الْقِرَاءَةِ إِسْكَاتَةً  قَالَ أَحْسِبُهُ قَالَ: هُنَيَّةً فَقُلْتُ: بِأَبِي وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِسْكَاتُكَ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةِ مَا تَقُولُ؟ قَالَ: «أَقُولُ: اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ». (رواه مسلم: ٤٥٦)[٥]

Terjemahan

Hadis dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ biasanya diam sejenak antara takbir dan bacaan (Al-Fatihah) ia berkata: aku kira ia mengatakan sejenak maka aku berkata, “Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, apa yang engkau baca dalam diam di antara takbir dan bacaan itu?” ia menjawab, “Aku membaca: ‘Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan dosa-dosaku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari dosa-dosaku sebagaimana dibersihkan kain putih dari kotoran. Ya Allah, cucilah dosa-dosaku dengan air, salju, dan embun." (HR. Muslim: 456).

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini mengandung ajaran tentang praktik saktah (diam sejenak) dalam salat setelah takbiratul ihram yang diisi dengan bacaan doa iftitah, sehingga menunjukkan bahwa diam tersebut bukan kekosongan, melainkan bagian dari struktur ibadah yang bermakna. Secara fiqh, hadis ini menjadi dasar disyariatkannya doa iftitah sebagai amalan sunnah yang dibaca sebelum Al-Fatihah. Dari sisi makna, doa yang dibaca Nabi ﷺ memuat permohonan penyucian dosa melalui tiga bentuk ungkapan simbolik, yaitu dijauhkan dari dosa sejauh jarak timur dan barat, dibersihkan seperti kain putih dari kotoran, serta dicuci dengan air, salju, dan embun. Ketiga ungkapan ini menunjukkan tingkatan pemurnian spiritual yang tidak hanya menekankan penghapusan dosa, tetapi juga pemisahan total dan penyucian mendalam dari pengaruhnya. Dalam perspektif ma‘ani al-ḥadīṡ, penggunaan metafora tersebut mengindikasikan bahwa dosa dipahami sebagai sesuatu yang mengotori dan membebani jiwa, sehingga sebelum memasuki bacaan inti salat, seorang hamba terlebih dahulu melakukan proses tazkiyah al-nafs melalui doa. Dengan demikian, hadis ini menegaskan bahwa salat bukan sekadar rangkaian gerakan dan bacaan, tetapi sebuah proses spiritual yang diawali dengan penyadaran diri, pengakuan kelemahan, dan permohonan penyucian kepada Allah.

* Hadis

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا اسْتَفْتَحَ الصَّلاَةَ كَبَّرَ ثُمَّ قَالَ «إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَقِنِى سَيِّئَ الأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الأَخْلاَقِ لاَ يَقِى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ. (رواه النسائي: ٩٠٤)[٦]

Terjemahan

Hadis dari Jabir RA, ia berkata: Nabi SAW apabila memulai salat, Rasulullah bertakbir kemudian membaca: “sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dengan itu aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang muslim. Ya Allah, berilah aku petunjuk kepada sebaik-baik amal dan sebaik-baik akhlak, tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada yang terbaik darinya kecuali Engkau. Dan lindungilah aku dari buruknya amal dan buruknya akhlak, tidak ada yang dapat melindungi darinya kecuali Engkau.” (HR al-Nasa’i: 904)

Isi Kandungan Hadis

Hadis riwayat an-Nasa’i dari Jabir RA menunjukkan bahwa doa iftitah sebagai bacaan pembuka dalam salat memiliki kandungan makna yang mendalam, yaitu penghambaan dan penyerahan diri secara total kepada Allah SWT. Dalam doa tersebut, Rasulullah SAW menegaskan bahwa salat, ibadah, hidup, dan mati semuanya hanya ditujukan kepada Allah semata. Selain itu, doa iftitah ini juga berisi permohonan agar diberikan petunjuk kepada amal dan akhlak terbaik serta dijauhkan dari keburukan. Hal ini menunjukkan bahwa iftitah tidak hanya berfungsi sebagai pembuka salat, tetapi juga sebagai bentuk persiapan spiritual untuk menghadirkan keikhlasan, tauhid, dan kekhusyukan sebelum membaca ayat-ayat Al-Qur’an dalam salat.


* Hadis

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ: وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، وَإِذَا رَكَعَ قَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، خَشَعَ لَكَ سَمْعِي وَبَصَرِي وَمُخِّي وَعَظْمِي وَعَصَبِي، وَإِذَا رَفَعَ قَالَ: اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، وَإِذَا سَجَدَ قَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ، ثُمَّ يَكُونُ مِنْ آخِرِ مَا يَقُولُ بَيْنَ التَّشَهُّدِ وَالتَّسْلِيمِ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ. (رواه مسلم: ٢٠١)

Terjemahan

Hadis dari Ali RA, dari Rasulullah SAW, bahwa beliau apabila berdiri untuk salat, beliau membaca: “Aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus (hanif), dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dengan itu aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang muslim. Ya Allah, Engkau adalah Raja, tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah menzalimi diriku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah seluruh dosaku, karena tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau. Tunjukilah aku kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat menunjuki kepada yang terbaik darinya kecuali Engkau, dan palingkanlah dariku akhlak yang buruk, tidak ada yang dapat memalingkannya dariku kecuali Engkau. Aku penuhi panggilan-Mu dan aku taat kepada-Mu, seluruh kebaikan berada di tangan-Mu, dan keburukan tidak dinisbatkan kepada-Mu. Aku hidup dengan pertolongan-Mu dan kembali kepada-Mu. Maha Berkah Engkau dan Maha Tinggi Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu.” Kemudian apabila beliau rukuk, beliau membaca: “Ya Allah, kepada-Mu aku rukuk, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Tunduk kepada-Mu pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku, dan uratku.” Dan apabila beliau bangkit dari rukuk, beliau membaca: “Ya Allah, Tuhan kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit, sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang ada di antara keduanya, serta sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu.” Dan apabila beliau sujud, beliau membaca: “Ya Allah, kepada-Mu aku sujud, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Dzat yang menciptakannya, membentuknya, serta membuka pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah sebaik-baik Pencipta.”
Kemudian di akhir antara tasyahud dan salam, beliau membaca: “Ya Allah, ampunilah aku atas apa yang telah aku lakukan dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan, serta apa yang aku berlebihan di dalamnya, dan apa yang Engkau lebih mengetahuinya dariku. Engkaulah Yang Mendahulukan dan Engkaulah Yang Mengakhirkan, tidak ada Tuhan selain Engkau.” (HR Muslim: 201)

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini memperlihatkan bahwa doa iftitah dalam salat merupakan bagian awal yang berfungsi sebagai deklarasi tauhid dan penyerahan diri total kepada Allah SWT sebelum memasuki bacaan Al-Qur’an. Dalam redaksi yang panjang ini, Rasulullah SAW membuka salat dengan pengakuan bahwa seluruh hidup, ibadah, dan tujuan hidup hanya لله رب العالمين, disertai permohonan ampun, perbaikan akhlak, dan penegasan ketundukan penuh kepada Allah. Dari sini terlihat bahwa iftitah tidak hanya bersifat pembuka formal, tetapi menjadi fondasi spiritual yang membangun kesadaran kehambaan, membersihkan niat, dan menyiapkan hati agar hadir secara penuh dalam salat sebelum masuk pada rukuk, sujud, dan rangkaian ibadah lainnya.

* Hadis

حدثناه زهير بن حرب حدثنا عبدالرحمن بن مهدي ح وحدثنا إسحاق بن إبراهيم أخبرنا أبو النضر قالا حدثنا عبدالعزيز بن عبدالله بن أبي سلمة عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا اسْتَفْتَحَ الصَّلاَةَ كَبَّرَ ثُمَّ قَالَ «إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَقِنِى سَيِّئَ الأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الأَخْلاَقِ لاَ يَقِى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ. (رواه النسائي: ٩٠٤)

Terjemahan

Telah menceritakan hadis itu kepada kami Zuhair bin Harb, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Mahdi. Dan (melalui jalur lain) telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim, telah mengabarkan kepada kami Abu an-Nadhr. Keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Abi Salamah dari Jabir RA, ia berkata: Nabi SAW apabila memulai salat, beliau bertakbir kemudian membaca: “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dengan itu aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang muslim. Ya Allah, berilah aku petunjuk kepada sebaik-baik amal dan sebaik-baik akhlak, tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada yang terbaik darinya kecuali Engkau. Dan lindungilah aku dari buruknya amal dan buruknya akhlak, tidak ada yang dapat melindungi darinya kecuali Engkau.” (HR al-Nasa’i: 904)

Isi Kandungan Hadis

Hadis riwayat an-Nasa’i dari Jabir RA menunjukkan bahwa doa iftitah sebagai bacaan pembuka dalam salat memiliki kandungan makna yang mendalam, yaitu penghambaan dan penyerahan diri secara total kepada Allah SWT. Dalam doa tersebut, Rasulullah SAW menegaskan bahwa salat, ibadah, hidup, dan mati semuanya hanya ditujukan kepada Allah semata. Selain itu, doa iftitah ini juga berisi permohonan agar diberikan petunjuk kepada amal dan akhlak terbaik serta dijauhkan dari keburukan. Hal ini menunjukkan bahwa iftitah tidak hanya berfungsi sebagai pembuka salat, tetapi juga sebagai bentuk persiapan spiritual untuk menghadirkan keikhlasan, tauhid, dan kekhusyukan sebelum membaca ayat-ayat Al-Qur’an dalam salat.

* Hadis

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ ذَبَحَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ الذَّبْحِ كَبْشَيْنِ أَقْرَنَيْنِ أَمْلَحَيْنِ مُوجَأَيْنِ فَلَمَّا وَجَّهَهُمَا قَالَ « إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ عَلَى مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ عَنْ مُحَمَّدٍ وَأُمَّتِهِ بِاسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ». ثُمَّ ذَبَحَ (رواه ابو داود: ٢٧۹٧) 

Terjemahan

Hadis dari Jabir RA, ia berkata: Nabi SAW pada hari penyembelihan (Idul Adha) menyembelih dua ekor kambing yang bertanduk, berwarna putih bercampur hitam, dan telah dikebiri. Ketika ia menghadapkan keduanya, beliau membaca: “sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi di atas agama Ibrahim yang lurus, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dengan itu aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang muslim. Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu, dari Muhammad dan umatnya, dengan nama Allah, Allah Maha Besar.” Kemudian beliau menyembelih. (HR. Abu Dawud: 2797).

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini menunjukkan bahwa redaksi yang mirip dengan doa iftitah tidak hanya terbatas dalam salat, tetapi juga digunakan dalam ibadah lain seperti penyembelihan kurban, yang berisi pengakuan tauhid, penyerahan diri, dan pemurnian niat kepada Allah SWT. Dalam konteks ini, iftitah dipahami sebagai ekspresi awal penghambaan yang menegaskan orientasi ibadah hanya kepada Allah, sebelum suatu amal dilakukan secara fisik. Bacaan “inni wajjahtu wajhiya…” mencerminkan inti dari iftitah, yaitu menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah dengan meninggalkan kesyirikan, sekaligus menegaskan bahwa seluruh kehidupan dan ibadah hanya milik-Nya. Hal ini memperluas pemahaman bahwa nilai iftitah bukan sekadar pembuka salat, tetapi juga prinsip dasar dalam setiap bentuk ibadah.

* Hadis

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اسْتَفْتَحَ الصَّلَاةَ كَبَّرَ ثُمَّ قَالَ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ. (رواه النسائي: ٢۹٦)

Terjemahan

Hadis dari Ali RA, bahwa Rasulullah SAW apabila memulai salat, ia bertakbir lalu membaca: “Aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dengan itu aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang muslim. Ya Allah, Engkau adalah Raja, tidak ada Tuhan selain Engkau, aku adalah hamba-Mu, aku telah menzalimi diriku dan mengakui dosaku, maka ampunilah seluruh dosaku, karena tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau. Tunjukilah aku kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat menunjuki kepada yang terbaik darinya kecuali Engkau, dan palingkanlah dariku akhlak yang buruk, tidak ada yang dapat memalingkannya dariku kecuali Engkau. Aku penuhi panggilan-Mu dan aku taat kepada-Mu, seluruh kebaikan berada di tangan-Mu, dan keburukan tidak dinisbatkan kepada-Mu. Aku hidup dengan pertolongan-Mu dan kembali kepada-Mu. Maha Berkah Engkau dan Maha Tinggi Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu.” (HR. Nasa’i: 296).

Isi Kandungan Hadis

 Hadis ini memperlihatkan bahwa doa iftitah dalam salat berfungsi sebagai pembuka yang sarat makna teologis dan etis, bukan sekadar bacaan awal sebelum Al-Fatihah. Rasulullah SAW memulai salat dengan penegasan tauhid, pengakuan kehambaan, serta penyerahan total hidup kepada Allah, kemudian dilanjutkan dengan istighfar, permohonan hidayah, dan perbaikan akhlak. Struktur ini menunjukkan bahwa iftitah berfungsi sebagai “reset spiritual” sebelum memasuki inti salat: membersihkan kesadaran dari dosa, menata orientasi ibadah, dan mengarahkan hati pada Allah semata. Dengan demikian, iftitah menjadi fondasi kekhusyukan yang menghubungkan aspek akidah, akhlak, dan ibadah dalam satu momentum pembukaan salat.

* Hadis

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنِ الْقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا؟ قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: عَجِبْتُ لَهَا، فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ. (رواه ابو داود: ٣٩٤١)

Terjemahan

Hadis dari Ibnu ‘Umar, ia berkata: Ketika kami sedang salat bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba seorang laki-laki dari jamaah berkata, “Allah Mahabesar dengan sebenar-benarnya kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, dan Mahasuci Allah di waktu pagi dan petang.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang mengucapkan kalimat tadi?” Seorang laki-laki menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Aku kagum terhadapnya; telah dibukakan baginya pintu-pintu langit.” (HR. Abu Daud, 3941).

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini memuat ungkapan dzikir seorang sahabat dalam salat: “Allāhu akbaru kabīran wal-ḥamdu lillāhi kathīran wa subḥānallāhi bukratan wa aṣīlā”, yang kemudian mendapat pujian dari Nabi ﷺ. Secara makna, redaksi ini sejalan dengan ruh iftitah karena berisi pengagungan (takbir), penyucian (tasbih), dan pujian (tahmid) kepada Allah sebelum melanjutkan bacaan salat. Namun dalam riwayat ini, ia tidak ditetapkan sebagai iftitah yang baku, melainkan muncul sebagai ekspresi dzikir spontan yang tetap diakui keutamaannya oleh Rasulullah ﷺ. Ini menunjukkan bahwa substansi iftitah bukan semata pada satu lafaz tertentu, tetapi pada orientasi awal salat yang diisi dengan pengagungan kepada Allah secara tulus.

* Hadis

عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: قَامَ رَجُلٌ خَلْفَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَاحِبُ الْكَلِمَةِ؟ فَقَالَ رَجُلٌ: أَنَا يَا نَبِيَّ اللَّهِ، فَقَالَ: لَقَدِ ابْتَدَرَهَا اثْنَا عَشَرَ مَلَكًا. (رواه النسائي: ٨٨٤)

Terjemahan

Hadis dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata: Seorang laki-laki berdiri di belakang Nabi ﷺ lalu mengucapkan, “Allah Mahabesar dengan sebenar-benarnya kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, dan Mahasuci Allah di waktu pagi dan petang.” Maka Nabi ﷺ bersabda, “Siapa pemilik kalimat itu?” Seorang laki-laki menjawab, “Saya, wahai Nabi Allah.” Beliau bersabda, “Sungguh dua belas malaikat berlomba-lomba (untuk mencatat atau membawanya).” (HR al-Nasa’i: 884)

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini kembali menampilkan bentuk dzikir dalam salat yang berisi pengagungan kepada Allah melalui kalimat “Allāhu akbaru kabīran, wal-ḥamdu lillāhi kathīran, wa subḥānallāhi bukratan wa aṣīlā”. Dalam konteks iftitah, redaksi ini merepresentasikan ruh pembukaan salat karena memuat unsur takbir, tahmid, dan tasbih yang menjadi inti orientasi awal seorang hamba sebelum melanjutkan bacaan utama. Nabi ﷺ tidak menetapkan lafaz ini sebagai formula iftitah yang baku, tetapi justru memberikan apresiasi yang tinggi dengan menyebut bahwa para malaikat berlomba mencatatnya, yang menunjukkan nilai keutamaan dzikir tersebut. Dengan demikian, hadis ini memperkuat bahwa semangat iftitah terletak pada pengagungan Allah di awal salat, meskipun redaksi yang digunakan dapat bervariasi selama tetap berada dalam koridor dzikir yang sahih.

* Hadis

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنِ الْقَائِلُ كَذَا وَكَذَا؟» فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «عَجِبْتُ لَهَا، فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ». قَالَ ابْنُ عُمَرَ: مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ، وَحَجَّاجُ بْنُ أَبِي عُثْمَانَ هُوَ حَجَّاجُ بْنُ مَيْسَرَةَ الصَّوَّافُ، وَيُكْنَى أَبَا الصَّلْتِ، وَهُوَ ثِقَةٌ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ. (رواه الترميزي: ٣٩٤١)

Terjemahan

Hadis  dari Ibnu ‘Umar r.a., ia berkata: Ketika kami sedang salat bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba seorang laki-laki dari jamaah berkata, “Allah Mahabesar dengan sebenar-benarnya kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, dan Mahasuci Allah di waktu pagi dan petang.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang mengucapkan kalimat itu?” Seorang laki-laki menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Aku kagum terhadapnya; telah dibukakan baginya pintu-pintu langit.” Ibnu ‘Umar berkata, “Aku tidak pernah meninggalkan kalimat itu sejak aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ.” Abu ‘Isa (at-Tirmidzi) berkata: “Hadis ini hasan sahih gharib dari jalur ini, dan al-Hajjaj bin Abi ‘Utsman adalah Hajjaj bin Maisarah ash-Shawwaf, kunyahnya Abu ash-Shalt, dan ia tsiqah menurut ahli hadis.”  (HR al-Tirmidzi: 3941)

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini memperlihatkan satu bentuk dzikir dalam salat yang berisi takbir, tahmid, dan tasbih: “Allāhu akbaru kabīran, wal-ḥamdu lillāhi kathīran, wa subḥānallāhi bukratan wa aṣīlā”. Dalam kerangka iftitah, redaksi ini dapat dipahami sebagai ekspresi pembukaan spiritual karena memuat pengagungan Allah sebelum seorang hamba melanjutkan bacaan salat. Namun, riwayat ini tidak menempatkannya sebagai lafaz iftitah yang wajib atau baku, melainkan sebagai dzikir yang memiliki keutamaan tinggi. Hal ini terlihat dari respon Nabi ﷺ yang mengaguminya dan menyebut bahwa pintu-pintu langit dibukakan untuknya, serta pengamalan Ibnu ‘Umar yang konsisten membacanya setelah mendengar langsung dari Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, hadis ini menegaskan bahwa ruh iftitah adalah pengagungan Allah di awal salat, yang dapat diwujudkan dalam beberapa bentuk dzikir yang sahih dan bernilai tinggi.











Komentar 0