Hadis tentang Peran Penyesalan dalam Kesempurnaan Taubat
Hadis
عَنِ ابْنِ مَعْقِلٍ قَالَ: دَخَلْتُ مَعَ أَبِى عَلَى عَبْدِ اللَّهِ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: النَّدَمُ تَوْبَةٌ. فَقَالَ لَهُ أَبِى: أَنْتَ سَمِعْتَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ : النَّدَمُ تَوْبَةٌ. قَالَ: نَعَمْ. (رواه ابن ماجه: ٤٣٩٢).[1]
Terjemahan
Hadis dari Ibnu Ma‘qil, ia berkata: Aku masuk bersama ayahku menemui Abdullah bin Mas‘ud. Lalu aku mendengarnya berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Penyesalan adalah tobat.’” Maka ayahku bertanya kepadanya, “Apakah engkau benar-benar mendengar Nabi SAW bersabda, ‘Penyesalan adalah tobat’?” Ia menjawab, “Ya.” hingga akhir ayat (QS. Ali ‘Imran: 135). (HR Ibn Majah: 4392).
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa inti dan dasar dari tobat adalah adanya penyesalan yang tulus atas dosa yang telah dilakukan. Penyesalan menunjukkan kesadaran seseorang terhadap kesalahannya dan keinginannya untuk tidak mengulanginya lagi. Oleh karena itu, semakin besar penyesalan seorang hamba atas maksiat yang diperbuatnya, semakin sempurna tobatnya di sisi Allah SWT. Hadis ini juga menegaskan bahwa tobat bukan sekadar ucapan istigfar, tetapi harus disertai kesadaran dan penyesalan yang lahir dari hati.
Referensi
- Abu Abdillah Muhammad bin Yazid al-Qazwaniy, Op.cit., h. 589.

Komentar 0